1.PENDAHULUAN
1.1 Latar BelakangPindah panas mengalir dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang rendah. Perpindahan ka1or dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam proses industry. Perpindahan kalor akan terhenti ketika terjadi keseimbangan. Dua buah benda atau lebih saling mencapai keseimbangan. Benda yang memiliki temperatur rendah akan melepas kalor sedangkan benda yang memiliki temperatur tinggi akan menyerap kalor.Energi hanya berubah bentuk dari bentuk yang pertama ke bentuk yang ke dua. Bila diperhatikan misalnya jumlah energi kalor api unggun kayu yang ditumpukkan, semua ini .menyimpan sejum1ah energi dalam yang ditandai dengan kuantitas yang lazim disebut muatan kalor bahan. Kalor dapat diangkut dengan tiga macam cara yaitu (Masyitah dan Haryanto 2006):1. Pancaran, sering juga dinamakan radiasi.2. Hantaran, sering juga disebut konduksi.3. Aliran, sering juga disebut radiasi. Perpindahan panas yang terjadi pada bahan yang padat dan cair tentunya akan berbeda. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan perpindahan panas yang terjadi yang dipengaruhi oleh karakteristik bahan.
1.2 TujuanPraktikum in bertujuan untuk mengetahui bentuk pindah panas pada beberapa jenis bahan (cair, minyak, tahu, tempe) serta perbandingan pindah panas antara berbagai jenis bahan dengan waktu pengamatan yang sama.2.
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pindah PanasTransfer panas selalu terjadi dari benda yang panas ke benda yang dingin dan terjadi secara spontan. Jika beberapa benda saling berdekatan satu sama lain dan mempunyai temperatur yang berbeda kemudian benda yang panas akan menjadi dingin dan benda yang dingin menjadi panas hingga mencapai temperatur keseimbangan (Pearson 1992). Pindah panas mengalir dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang rendah. Kita sering mendengar orang berkata bahwa mereka itu berharap agar temperature yang dingin tidak masuk ke rumah mereka. Cara yang terbaik ialah mereka menjaga agar tidak terjadi perpindahan panas. Penggunaan insulator bertujuan untuk mencegah perpindahan panas tetapi tidak ada insulator yang dapat mencegah kehilangan panas 100 %. Insulator hanya mengurangi panas yang keluar (Pearson 1992). Pindah panas dapat berlangsung dari suatu lokasi ke lokasi lain melalui tiga cara, konduksi, konveksi dan radiasi. Panas yang berpindah dari suatu fluida ke fluida lain yang dipisahkan oleh suatu dinding akan berlangsung secara konvektif dan konduktif. Pindah panas juga dapat berlangsung sehubungan dengan perpindahan materi yang mengandung panas dari suatu tempat ke tempat lain. Umumnya perpindahan ini terjadi pada fluida yang sifatnya relatif bebas bergerak. Ketika fluida tersebut masuk ke dalam sistem dengan suhu Tin dan fluida yang keluar dari sistem tersebut dengan suhu Tout maka persamaan yang dapat melukiskan perpindahan panas ini adalah (Lesmana 2008):
2.2 Mekanisme Pindah Panas Pindah panas merupakan fenomena yang dipelajari dalam ilmu fisika. Pindah panas dapat berlangsung dari suatu lokasi ke lokasi lain melalui tiga cara, konduksi, konveksi dan radiasi.
2.2.1 KonduksiKonduksi atau hantaran adalah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah. Benda yang dapat menghantar panas dengan baik disebut sebagai konduktor. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi atau sembarang jenis logam dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam nyala api. Dapat dilihat bagaimana kalor berrpindah dari ujung yang panas ke ujung yang dingin (Masyithah dan Haryanto 2006). Apabila ujung batang logam tadi menerima energi kalor dari api, energi ini akan memindahkan sebagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun bahan tersebut. Molekul dan elektron merupakan alat pengangkut kalor di dalam bahan menurut proses perpindahan kalor konduksi. Dengan demikian dalam proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran electron akan memainkan peranan penting. Kadar aliran energi kalor setiap benda adalah berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah berbeda. Untuk satu bahan berfase padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan berfase gas seperti udara (Masyithah dan Haryanto 2006).
2.2.2 KonveksiKonveksi atau aliran adalah pengangkutan ka1or oleh gerak dari zat yang dipanaskan. Proses perpindahan panas secara aliran atau konveksi merupakan satu fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya. Dalam hal ini dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling adalah T2 dengan Tl>T2. Kini terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara bahan dengan sekelilingnya (Masyitah dan Haryanto 2006). Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Konveksi hanya dapat terjadi melalui zat yang mengalir, maka bentuk pengangkutan ka1or ini hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran, karena masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus dibawa kesuhu yang sama tinggi. Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan memperoleh masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin. Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi, sehingga kalor tersebar pada seluruh zat (Masyitah dan Haryanto 2006). Gambar 2. Perpindahan panas konveksi. (a) konveksi paksa, (b) konveksi alamiah, (c) pendidihan, (d) kondensasi Sumber : Masyithah dan Haryanto (2006)Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan ke sekelilingnya dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida melibatkan pengangkutan massa, maka selama pengaliran fluida bersentuhan dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida akan naik. Gerakan fluida melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran momentum. Jadi masa fluida yang mempunyai energi termal yang lebih tinggi akan mempunyai momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan masanya akan bertambah. Massa fluida menjadi berkurang karena kini fluida menerima energi kalor (Masyitah dan Haryanto 2006).Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat massa benda yang telah naik itu diisi oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah massa juga menerima energi kalor dari permukaan bahan, massa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu renah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konduksi dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor. Dalam pengamatan proses perpindahan kalor konveksi, masalah yang utama terletak pada cara mencari metode penentuan nilai h dengan tepat. Nilai koefisien ini tergantung kepada banyak faktor. Jumlah kalor yang dipindahkan, bergantung pada nilai h. Jika cepatan medan tetap, artinya tidak ada pengaruh luar yang mendoromg fluida bergerak, maka proses perpindahan ka1or berlaku. Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh unsur luar seperti kipas atau peniup, maka proses konveksi yang akan terjadi merupakan proses perpindahan kalor konveksi paksa. Yang membedakan kedua proses ini adalah dari nilai koefisien h-nya (Masyitah dan Haryanto 2006)
2.2.3 RadiasiRadiasi atau pancaran merupakan perpindahan panas mela1ui gelombang dari suatu zat ke zat yang lain. Semua benda memancarkan panas. Keadaan ini baru terbukti setelah suhu meningkat. Pada hakekatnya proses perpindahan perpindahan radiasi terjadi dengan perantaraan foton dan juga gelombang elektromagnet. Terdapat dua teori yang berbeda untuk menerangkan bagaimana proses radiasi itu terjadi. Semua bahan pada suhu mutlak tertentu akan menyinari sejumlah energi ka1or tertentu. Semakin tinggi suhu bahan tadi maka semakin tinggi pula energi ka1or yang disinarkan. Proses radiasi adalah fenomena permukaan. Proses radiasi tidak terjadi pada bagian dalam bahan. Tetapi suatu bahan apabila menerima sinar, maka banyak ha1 yang boleh terjadi. Energi ka1or yang menimpa suatu permukaan, sebagian akan dipantulkan, sebagian akan diserap ke da1am bahan, dan sebagian akan menembus bahan dan terus ke luar. Jadi da1am mempelajari perpindahan ka1or radiasi akan dilibatkan suatu fisik permukaan (Masyitah dan Haryanto 2006). Bahan yang dianggap mempunyai ciri yang sempurna adalah jasad hitam. Disamping itu, sama seperti cahaya lampu, adaka1anya tidak semua sinar mengenai permukaan yang dituju. Jadi da1am masalah ini kita mengenal satu faktor pandangan yang lazimnya dinamakan faktor bentuk. Maka jumlah ka1or yang diterima dari satu sumber akan berbanding langsung sebagiannya terhadap faktor bentuk ini. Sifat termal permukaan bahan juga penting. Berbeda dengan proses konveksi, medan aliran fluida disekeliling permukaan tidak penting, yang penting ialah sifat terma saja. Dengan demikian, untuk memahami proses radiasi dari satu permukaan kita perlu memahami juga keadaan fisik permukaan bahan yang terlibat dengan proses radiasi yang berlaku (Masyitah dan Haryanto 2006).Proses perpindahan kalor sering terjadi secara serentak. Misalnya sekeping plat yang dicat hitam dikenakan sinar matahari. Plat akan menyerap sebagian energi matahari. Suhu plat akan naik ke satu tahap tertentu. Oleh karena suhu permukaan atas naik maka kalor akan berkonduksi dari permukaan atas ke permukaan bawah, permukaan bagian atas kini mempunyai suhu yang lebih tinggi dari suhu udara sekeliling, maka jumlah kalor akan disebarkan secara konveksi. Tetapi energi kalor juga disebarkan secara radiasi. Dalam hal ini dua hal terjadi, ada kalor yang dipantulkan dan ada kalor yang dipindahkan ke sekeliling (Masyitah dan Haryanto 2006). Gambar 3. Perpindahan panas radiasi(a) pada permukaan, (b) antara permukaan dan lingkunganSumber : Masyithah dan Haryanto (2006)Berdasarkan kepada keadaan terma permukaan, bahan yang di pindahkan dan dipantulkan ini dapat berbeda. Proses radiasi tidak melibatkan perbedaan suhu. Keterlibatan suhu hanya terjadi jika terdapat dua permukaan yang mempunyai suhu yang berbeda. Dalam hal ini, setiap permukaan akan menyinarkan energi kalor secara radiasi jika permukaan itu bersuhu T dalam unit suhu mutlak. Lazimnya jika terdapat satu permukaan lain yang saling berhadapan, dan jika permukaan pertama mempunyai suhu T1 mutlak sedangkan permukaan kedua mempunyai suhu T2 mutlak, maka permukaan tadi akan saling memindahkan kalor . Selanjutnya juga penting untuk diketahui bahwa (Masyitah dan Haryanto 2006):1. Kalor radiasi merambat lurus2. Untuk perambatan itu tidak diperlukan medium (misalnya zat cair atau gas) Dimana : δ = Konstanta Stefan-Boltzman 5,669 x10- 8 w/m2 k4 A = Luas penampang T = Temperatur 2.3 BahanBahan merupakan benda-benda yang digunakan sebagai komposisi dalam pembuatan suatu benda. Bahan dapat pula dikatakan sebagai suatu komponen penyusun.2.3.1 AirAir merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O. Sebuah molekul air terdiri dari satu atom O yang berikatan kovalen dengan dua atom H. molekul air yang satu dengan molekul-molekul air lainnya bergabung dengan satu ikatan hydrogen antara atom H dengan aom O dari molekul air yang lain. Adanya ikatan hydrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat-sifat yang khas seperti pada Tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Sifat-sifat airSifat Efek dan kegunaanPelarut yang sangat baik Transport zat-zat makanan dan bahan buanganKapasitas kalor lebih tinggi dibandingkan cairan lain kecuali ammonia Stabilisasi dari temperature organism dan wilayah geographisPanas penguapan lebih tinggi dari material lainnya Menentukan transfer panas dan molekul air antara atmosfer dan badan airKonstanta dielektrik paling tinggi diantara cairan lainnya Kelarutan dan ionisasi dari senyawa ini tinggi dalam kelarutannyaTegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya Factor pengendali dalam fisiologi, membentuk fenomena tetes dan permukaan Sumber : Achmad 2004Air sebagai pelarut yang sangat baik juga mempunyai konstanta dielektrik yang sangat tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap sifat-sifat pelarutnya. Hal ini menyebabkan banyak sekali senyawa ionis berdesosiasi dalam air. Kapasitas kalor air cukup tinggi yaitu 1 kal/grC, oleh karena itu kalor yang diperlukan untuk merubah suhu dari sejumlah massa air cukup tinggi pula sehingga menstabilkan suhu air. Kalor penguapan yang sangat tinggi yaitu 585 kal/g pada suhu 20C dapat menjaga kestabilan suhu badan air, kondisi ini mempengaruhi juga perpindahan kalor dan uap air antar badan air (Achmad 2004).2.3.2 Minyak GorengMinyak goreng adalah bahan pangan non-esensial dan berfungsi sebagai bahan pangan komplemen. Minyak goreng digunakan secara luas di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia (Amang et al., 1996 dalam Trimulyono 2008), baik oleh rumah tangga maupun industri makanan. Fungsi minyak goreng sangat penting dalam menciptakan aroma, rasa, warna, daya simpan dan dalam beberapa hal juga untuk meningkatkan nilai gizi produk (Sumaryanto dan Pantetana 1996). Tidak semua minyak dapat digunakan untuk menggoreng. Minyak yang biasa digunakan untuk menggoreng adalah minyak yang berasal dari tumbuhan atau minyak nabati (Winarno 1999). Minyak nabati adalah minyak yang dihasilkan dari ekstrak kandungan lemak dari tumbuh-tumbuhan. Minyak nabati tergolong sebagai minyak yang tidak akan mengeras jika dibiarkan di udara terbuka (non drying oil). Salah satu contoh minyak yang tergolong kelompok ini adalah minyak kelapa sawit. Minyak nabati yang popular dikonsumsi manusia adalah hasil olahan jagung, kedelai, bunga matahari, kelapa, kelapa sawit, kacang tanah. Sumber bahan baku utama minyak goreng yang diproduksi di Indonesia adalah kelapa sawit dalam bentuk minyak sawit dan minyak inti sawit (Winarno 1999 dalam Trimulyono 2008). Namun lebih dari 95 persen minyak goreng di Indonesia adalah minyak nabati yang berasal dari kelapa dan kelapa sawit (Sumaryanto dan Pantetana 1996).Sifat fisika kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, flavor, kelarutan, titik didih, titik cair dan polymorphism, bobot jenis, indeks bias, kekeruhan, titik asap, titik nyala dan titik api. Warna minyak kelapa sawit ditentukan oleh adanya pigmen yang larut dalam minyak serta pigmen yang tersisa setelah mengalami proses pemucatan. Sifat fisika kimia minyak sawit disajikan dalam Tabel 4.Tabel 4. Nilai fisiko kimia minyak sawitKarakteristik Minyak SawitDensitas pada 50 0C (Kg/m3) 891,00Berat jenis (40 0c) 0,921 – 0,925Bilangan iod 44 – 58Bilangan penyabunan 195 – 205Indeks reflaktif 1,453 – 1,458Titik leleh (0c) 25 – 50Bahan tak tersabunkan 0,2 – 0,8Sumber: Formo et al. (1979) dalam Winarno (1999)2.3.3 TahuTahu merupakan makanan tradisional yang sudah lama dikenal di Indonesia dan memegang peranan penting dalam pola makanan sehari-hari masyarakat Indonesia pada umumnya, baik sebagai lauk maupun sebagai makanan tambahan. Shurtleff dan Aoyagi (1975) menyatakan bahwa tahu adalah gumpalan protein dari susu kedelai sesudah dipisahkan dari air tahu dengan cari pengepresan. Sedangkan Hardjo (1964) dalam Setyadi (2008) menyatakan bahwa tahu merupakan hasil pengendapan suatu larutan kental yang mengandung protein terdispersi yang berasal dari kedelai. Tahu sebagai mana bahan pangan lainnya juga memiliki beberapa sifat termal, salah satunya adalah panas jenis. Sebagai protein tahu memiliki panas jenis sebesar 0,4 kkal/ kg oC atau 1700 J/kg oC (Giancoli 1998) Tahu merupakan makanan yang menyehatkan dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk memperbaiki gizi. Kedelai mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan zat-zat mineral. Menurut pengamatan Kastyanto (1990) 1 Kg kedelai mengandung kurang lebih 300-400 gram protein (40 %), karbohidrat 200-350 gram (35 %) dan minyak atau lemak 150-200 gram (20 %). Tahu mempunyai kandungan protein antar 8-12 % (Lembaga Kimia Nasional 1984) dengan mutu protein yang dinyatakan dengan NPU sebesar 65.2.3.4 TempeTempe merupakan salah satu produk fermentasi yang terbuat dari kacang kedelai. Dalam proses fermentasi ini, biasanya dibantu oleh aktivitas mikroba tertentu, terutama berasal dari jenis Rhizopus oryzae. Peranan mikroba pada proses pembuatan tempe merupakan hal yang sangat krusial. Beberapa faktor mempengaruhi proses pertumbuhan mikroba. Perkembangbiakan kapang ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan antara lain oksigen, suhu, kadar air, keasapman (Ph) (Septiani 2007). Tempe dari kacang kedelai mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi. Selain mengandung protein, tempe kedelai juga mengandung lemak, karbohidrat serta vitamin B12. Tempe yang baik, bentuknya keras dan kering serta di dalamnya tidak mengandung kotoran dan campuran bahan lain. Tempe merupakan protein lengkap yang mengandung 8 asam amino esensial. Komposisi asam aminonya cukup baik, kecuali metionin yang relatif lebih kecil dan merupakan factor pembatas, kandungan lisin cukup besar, jumlah asam amino bebas meningkat karena terurainya protein menjadi peptide dan asam amino oleh aktivitas enzim yang diproduksi kapang, peningkatan jumlah asam amino bebas meningkatkan penyerapannya (Syarief et al., 1999).2.4 KalengKaleng adalah lembaran baja yang disalut timah. Bagi orang awam, kaleng sering diartikan sebagai tempat penyimpanan atau wadah yang terbuat dari logam dan digunakan untuk mengemas makanan, minuman, atau produk lain. Dalam pengertian ini, kaleng juga termasuk wadah yang terbuat dari aluminium.Titik terdingin menjadi perhatian penting dalam proses termal, karena apabila titik terdingin telah mendapat pemanasan yang mencukupi, maka titik-titik lain dalam kemasan dianggap sudah mendapat panas yang mencukupi pula. Penentuan titik ter-dingin produk dapat diperkirakan dari sifat perambatan panas yang terjadi (konveksi atau konduksi), bentuk kemasan dan ukuran (Kusnandar et al. 2009).Kaleng timah (tin can) merupakan pengembangan dari penemuan Nicolas Appert pada dasawarsa 1800-an. Produk ini dipatenkan oleh seorang berkebangsaan Inggris, Peter Durand pada 1810. Berkat penemuan produksi massal, pada akhir abad ke-19, kaleng timah menjadi standar produk konsumen. Timah dipilih karena relatif tidak beracun dan menambah daya tarik kemasan karena berkilat dan tahan karat (Anonim 2006).Nilai panas jenis dari beberapa bahan yang biasanya merupakan bahan dasar kaleng dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Kalor Jenis beberapa jenis bahan Sumber : Anonim (2006)3. METODOLOGI3.1 Waktu dan Tempat Praktikum “pindah panas pada jenis bahan berbeda dalam kaleng” ini dilaksanakan pada hari Rabu, 1 April 2009 bertempat di Laboratorium Bahan Baku Hasil Berairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain kaleng, kompor listrik, termokople, timbangan, dan pisau. Bahan yang digunakan antara lain air, minyak, tahu dan tempe. 3.3 Prosedur Kerja Langkah-langkah kerja pada praktikum ini yaitu pertama kompor dipanaskan dengan setting awal 600 watt, setelah panas merata daya kompor diturunkan menjadi 300 watt. Suhu awal bahan dan kaleng diukur setelah itu bahan dimasukkan ke dalam kaleng dan ditaruh di atas kompor. Selanjutnya dilakukan pengukuran suhu kaleng dan bahan setiap 5 menit selama 30 menit. Berikut ini ditampilkan diagram alir praktikum ini Gambar 4. Diagram Alir Praktikum Pindah Panas pada Jenis Bahan Berbeda dalam Kaleng4. HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 HasilPerlakuan waktu dan kemasan yang sama diperoleh hasil dari pindah panas bahan berbeda. Berikut ini diagram grafik pindah panas beberapa macam bahan yaitu minyak, air, tempe, tahu dan kaleng pada gambar. Gambar 5. Grafik 1. Pindah Panas Beberapa Macam BahanPada Gambar 5 dapat dilihat minyak memiliki kemampuan hantar panas yang paling tinggi dibandingkan dengan air, tempe, tahu dan kaleng. Tempe memiliki hantar panas yang paling rendah dibanding bahan yang lain. Minyak memiliki hantar panas sebesar 0.15 W/mK sedangkan air memiliki hantar panas sebesar 0.016 W/mK. Semakin besar nilai hantar panas suatu bahan maka kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan panas akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan hasil pada Gambar 5. Kemampuan hantar panas akan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah jenis bahan, sifat bahan, serta lamanya pemanasan. Bahan seperti tempe dan tahu memiliki kemampuan hantar panas yang kurang baik. Tempe dan tahu dapat dikelompokkan sebagai bahan-bahan yang bersifat isolator. Dimana : q = Laju perpindahan panas (w) A = Luas penampang dimana panas mengalir (m2) dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T terhadap jarak dalam arah aliran panas x k = Konduktivitas thermal bahan (w/moC) Gambar 6. Grafik 2 Pindah panas beberapa macam bahan padatPada Gambar 6 dapat dilihat beberapa benda padat memiliki kemampuan hantar panas yang berbeda. Tahu memiliki hantar panas yang paling baik bila dibandingkan dengan bahan padat lain seperti kaleng dan tempe. Gambar 7. Grafik 3 Pindah panas beberapa bahan cairPada Gambar 7 dapat dilihat beberapa benda cair memiliki kemampuan hantar panas yang berbeda. Minyak memiliki hantar panas yang paling baik bila dibandingkan dengan bahan cair lain seperti air. 4.2 PembahasanKonduktivitas termal (k) suatu bahan tergantung pada tekstur, suhu, komposisi dan struktur atau susunan fisik suatu bahan (Dawensun 2006). Pindah panas setiap benda memiliki perbedaan antara benda yang satu dengan yang lain. Kemampuan pindah panas bahan uji yang terdiri dari kaleng, air, minyak, tempe, dan tahu setelah melalui proses pengujian ternyata minyak memiliki kemampuan hantar paling yang paling baik dibandingkan bahan lain yaitu tahu, tempe, kaleng, dan air. Secara umum proses pindah panas pada suatu bahan, bergantung dari jenis zat dan nilai konduktivitasnya. Bahan cair lebih cepat meneruskan atau menerima panas dibandingkan benda padat. Selain itu pada bahan cair proses yang terjadi adalah konveksi sehingga proses perpindahan panas lebih cepat. Nilai massa jenis pun ikut mempengaruhi kecepatan atau laju pindah panas. Proses pindah panas pada bahan padat berturu turut adalah tahu, kaleng, dan tempe. Pada waktu 10 menit, terlihat suhu kaleng, tempe, tahu, minyak, dan air beruturut-turut adalah 59, 16 0C, 52, 3 0C, 70,2 0C, 96 0C, dan 78 0C. Tahu sering kali disebut sebagai daging tidak bertulang, karena kandungan gizinya, terutama mutu protein, setara dengan daging hewan. Bahkan protein tahu lebih tinggi dibandingkan dengan protein kedelai (Sarwono 2003). Sehingga diasumsikan tahu di sini merupakan protein, berdasarkan Tabel 1. nilai konduktivitas tahu (protein) adalah 0,4 kka./g 0C, sedangkan kaleng (alumunium) adalah sebesar 0,22 kkal/g 0C sehingga tahu akan lebih cepat menerima panas atau akan lebih cepat panas. Bahan padat yang diuji terdiri dari kaleng, tahu, dan tempe. Pada gambar 6 ditunjukkan tahu memiliki hantar panas yang paling baik dibandingkan benda padat lainnya berupa kaleng dan tempe. Bahan cair yang diuji terdiri dari air dan minyak. Gambar 7 menunjukkan minyak memiliki hantar panas yang lebih baik dibandingkan dengan air. Suatu bahan biasanya mengalami perubahan temperatur bila terjadi perpindahan kalor antara bahan dengan lingkungannya. Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bertemperatur tinggi ke suatu benda yang bertemperatur lebih rendah, hingga tercapainya kesetimbangan termal.Untuk kasus kemasan berbentuk silinder (misalnya kaleng), titik terdingin untuk produk pangan berbentuk cair yang mengalami pindah panas secara konveksi akan berada di titik tengah di 1/3 ketinggian kaleng bagian bawah kemasan. Sedangkan untuk produk pangan berbentuk padat yang mengalami pindah panas secara konduksi, titik terdingin akan berada di titik tengah pusat kaleng. Oleh karena itu, ujung termokopel dipasangkan dipasangkan pada bagian-bagian tersebut.Proses pindah panas secara konveksi dimulai dari pindah panas secara konduksi saat menembus dinding kaleng dan mengenai cairan di bagian dinding kaleng. Hal ini menyebabkan suhu cairan pada dinding kaleng meningkat dan densitasnya menurun sehingga cairan akan bergerak ke atas. Pada saat cairan ini menyentuh cairan di bagian headspace, cairan ini akan bergerak ke bagian pusat kaleng. Sementara itu cairan yang lebih dingin akan bergerak mengganti-kan daerah di bagian dinding kaleng. Selama proses pindah panas ini, suhu cairan akan semakin seragam dan menyebabkan driving force akan semakin kecil, sehingga kecepatan pergerakan fluida akan semakin menurun. Dalam proses pindah panas secara konduksi, panas akan merambat dari dinding kaleng ke pusat kaleng dari segala arah. Dengan demikian, titik terdinginnya akan berada di pusat kemasan (Kusnandar et al. 2009).Hasil pengamatan pindah panas pada beberapa macam bahan menunjukan bahwa minyak mengalami pendidihan lebih cepat dan menguap sehingga pada menit kedua puluh minyak sudah tidak ada dan tidak dapat diukur suhunya. Medium air mengalami peningkatan sampai pada menit kedua puluh tetapi menuju menit kedua lima dan menit ketiga puluh suhu air cenderung konstan sekitar 80 ºC. Pada bahan tempe dari awal pemanasan sampai akhir pemanasan mengalami peningkatan. Bahan tahu juga mengalami peningkatan suhu dari mulai awal penyimpanan pada bahan kaleng sampai akhir pemanasan yang simpan dalam kaleng dengan peningkatan suhu yang cukup eksponensial. Sedangkan kaleng mengalami peningkatan sampai menit kedua puluh lima dan mengalami penurunan pada menit ke-30.Berdasarkan grafik pada Gambar 5 dapat diketahui bahwa minyak mengalami kenaikan suhu yang paling cepat dibandingkan bahan yang lain, diikuti air, tahu, kaleng dan tempe. Hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas (Winarno 1992). Minyak sebagai fluida memiliki mekanisme pindah panas secara konveksi.Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat masa benda alir yang telah naik itu diisi pula oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah masa ini juga menerima energi kalor dari permukan bahan, masa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu rendah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor. Perbedaan kecepatan dalam meningkatnya suhu pada setiap bahan ditentukan oleh kadar alir energi yang dipengaruhi oleh susunan molekul yang terdapat pada bahan. Kadar alir energi kalor pada setiap bahan adalah berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah berbeda. Untuk satu bahan berfasa padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan berfasa gas seperti udara (Masyithah dan Haryanto 2006).Berdasarkan grafik pada Gambar 7, dapat diketahui bahwa minyak mengalami kenaikan suhu yang lebih cepat dibandingkan air. Hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas (Winarno 1992). Minyak akan lebih cepat mendidih bila dibandingkan dengan air, hal ini dapt dilihat pada grafik di Gambar 7, bahwa hanya diperlukan waktu 20 menit untuk mendidihkan dan menguapkan lemak, sedangkan pada air ketika waktu memasuki 30 menit air telah mendidih tetapi belum semua molekul air yang ada teruapkan.Pemanasan air dapat mengurangi daya tarik-menarik antara molekul-molekul air. Bila suhu air meningkat, jumlah rata-rata molekul air dalam kerumunan molekul air menurun dan ikatan hidrogen putus dan terbentuk lagi secara cepat. Bila air dipanaskan lebih tinggi lagi sehingga molekul-molekul air bergerak demikian cepat dan tekanan uap air melebihi tekanan atmosfer beberapa molekul dapat melarikan diri dari permukaan dan menjadi gas. Hal ini terjadi ketika air mendidih pada suhu 100 ºC pada permukaan laut dengan tekanan barometer 760 mmHg. Dalam keadaan uap molekul-molekul air kurang lebih menjadi bebas satu sama lainnya (Winarno 1992).5. KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan Pindah panas suatu bahan akan dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranay adalah nilai konduktivitas panas (k). Pindah panas adalah proses berpindahnya panas dari bahan ke lingkungan maupun sebaliknya dari temperatur tinggi ke temperatur rendah. Mekanisme pindah panas yang terjadi dapat berupa konduksi, konveksi dan radiasi. Pada waktu 10 menit pertama suhu kaleng, tempe, tahu, minyak, dan air beruturut-turut adalah 59, 16 0C, 52, 3 0C, 70,2 0C, 96 0C, dan 78 0C. Perpindahan panas yang paling cepat terjadi pada minyak yaitu 96 0C pada 10 menit pertama.Benda padat yang mengalami proses konduksi adalah kaleng, tahu dan tempe, dimana tahu menunjukkan yang paling cepat mengalami kenaikan suhu. Hal ini dikarenakan tekstur tahu lebih lunak sehingga panas dapat dengan cepat berpindah. Konveksi merupakan proses pindah panas yang terjadi pada zat cair. Pada praktikum ini zat cair yang mengalami proses konveksi adalah minyak dan air, dimana minyak menunjukkan yang paling cepat mengalami kenaikan suhu, pada waktu 20 menit minyak telah mendidih dan menguap, hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas yang baik5.2 SaranPada praktikum selanjutnya bahan yang digunakan juga diberi insulator untuk membandingkan pindah panas yang terjadi pada suatu bahan.DAFTAR PUSTAKAAchmad . 2004. Kimia lingkungan. Yogyakarta: Andi YogyakartaAnonim. 2008. Kaleng. http://id.wikipedia.org/wiki/Kaleng. [ 01 April 2009].Dawensun. 2006. Thermal food prosessing . London: Taylor and Francis GroupGiancoli DC. 1998. Fisika Edisi Kelima Jilid Satu. Jakarta: Erlangga.Kusnandar F., et al. 2009. Pengukuran Penetrasi Panas [Topik 9]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Lembaga Kimia Nasiona. 1984. Tahu dan Pemanfaatn Limbah Padatnya. Brosur. Bogor: LKN-LIPI.Lesmana RI. 2008. Analisa Pindah Panas secara Konveksi. http://royindralesmana.wordpress.com . [ 01 April 2009].Masyithah dan Haryanto. 2006. Perpindahan Panas. Medan: Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatra Utara.Pearson. 1992. Conceptual Physics tenth edition. San Fransisco: City College of San FransiscoSeptiani. 2007. Penambahan tempe sebagai flavor dalam pembuatan kecap ikan petek (Leiognathus splendens) secara fermentasi enzimatis [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.Setyadi D. 2008. Pengaruh pencelupan tahu dalam pengawet asam organic terhadap mutu sensorik dan umur simpan. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.Syarief R., Hermanianto J., Hariyadi P., Wiraatmadja S., Suliantri, Dahrulsyah, Suyatna N.E., Saragih Y.P., Arisasmita J.H., Kuswardani I., Astuti M. 1999. Wacana Tempe Indonesia. Surabaya: Universitas Katolik Widya MandalaWinarno. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustakan Utama.Wirakartakusumah MA, Kamaruddin Abdullah, Atjeng M Syarif. 1992. Sifat Fisik Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor. LAMPIRANTabel 8. Suhu dari beberapa jenis bahanwaktu (menit) suhu dari beberapa jenis bahan (oC) kaleng tempe tahu minyak air0 30.7375 30.1 27.2 28 295 48.4 40.95 50.85 75 6210 59.1625 52.3 70.2 96 7815 60.4875 54 74.1 107.5 8520 67.575 65 80.15 110 8725 71.7875 70.75 89.2 8830 70.78571 80 91.8 88.5Laporan Praktikum ke-1 Hari/Tanggal : Rabu, 01 April 2009m. k. Teknologi Pengolahan Asisten Meja : Brinado F. IancaHasil Perairan Asisten Kelompok : Junide Mastuty H.PINDAH PANAS PADA BERBAGAI JENIS BAHAN BERBEDA DALAM KALENGOleh : NANANG KURNIA C34061419DEPARTEMEN TEKNOLOGI HASIL PERAIRANFAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTANINSTITUT PERTANIAN BOGOR20091.PENDAHULUAN1.1 Latar BelakangPindah panas mengalir dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang rendah. Perpindahan ka1or dari suatu zat ke zat lain seringkali terjadi dalam proses industry. Perpindahan kalor akan terhenti ketika terjadi keseimbangan. Dua buah benda atau lebih saling mencapai keseimbangan. Benda yang memiliki temperatur rendah akan melepas kalor sedangkan benda yang memiliki temperatur tinggi akan menyerap kalor.Energi hanya berubah bentuk dari bentuk yang pertama ke bentuk yang ke dua. Bila diperhatikan misalnya jumlah energi kalor api unggun kayu yang ditumpukkan, semua ini .menyimpan sejum1ah energi dalam yang ditandai dengan kuantitas yang lazim disebut muatan kalor bahan. Kalor dapat diangkut dengan tiga macam cara yaitu (Masyitah dan Haryanto 2006):1. Pancaran, sering juga dinamakan radiasi.2. Hantaran, sering juga disebut konduksi.3. Aliran, sering juga disebut radiasi. Perpindahan panas yang terjadi pada bahan yang padat dan cair tentunya akan berbeda. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan perpindahan panas yang terjadi yang dipengaruhi oleh karakteristik bahan.1.2 TujuanPraktikum in bertujuan untuk mengetahui bentuk pindah panas pada beberapa jenis bahan (cair, minyak, tahu, tempe) serta perbandingan pindah panas antara berbagai jenis bahan dengan waktu pengamatan yang sama.2. TINJAUAN PUSTAKA2.1 Pindah PanasTransfer panas selalu terjadi dari benda yang panas ke benda yang dingin dan terjadi secara spontan. Jika beberapa benda saling berdekatan satu sama lain dan mempunyai temperatur yang berbeda kemudian benda yang panas akan menjadi dingin dan benda yang dingin menjadi panas hingga mencapai temperatur keseimbangan (Pearson 1992). Pindah panas mengalir dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang rendah. Kita sering mendengar orang berkata bahwa mereka itu berharap agar temperature yang dingin tidak masuk ke rumah mereka. Cara yang terbaik ialah mereka menjaga agar tidak terjadi perpindahan panas. Penggunaan insulator bertujuan untuk mencegah perpindahan panas tetapi tidak ada insulator yang dapat mencegah kehilangan panas 100 %. Insulator hanya mengurangi panas yang keluar (Pearson 1992). Pindah panas dapat berlangsung dari suatu lokasi ke lokasi lain melalui tiga cara, konduksi, konveksi dan radiasi. Panas yang berpindah dari suatu fluida ke fluida lain yang dipisahkan oleh suatu dinding akan berlangsung secara konvektif dan konduktif. Perpindahan panas ini secara umum dapat dinyatakan sebagai: Dimana ΔT merupakan beda suhu antara lokasi U adalah koefisien pindah panas keseluruhan, yang untuk dinding datar dinyatakan sebagai: Pindah panas juga dapat berlangsung sehubungan dengan perpindahan materi yang mengandung panas dari suatu tempat ke tempat lain. Umumnya perpindahan ini terjadi pada fluida yang sifatnya relatif bebas bergerak. Ketika fluida tersebut masuk ke dalam sistem dengan suhu Tin dan fluida yang keluar dari sistem tersebut dengan suhu Tout maka persamaan yang dapat melukiskan perpindahan panas ini adalah (Lesmana 2008): 2.2 Mekanisme Pindah Panas Pindah panas merupakan fenomena yang dipelajari dalam ilmu fisika. Pindah panas dapat berlangsung dari suatu lokasi ke lokasi lain melalui tiga cara, konduksi, konveksi dan radiasi.2.2.1 KonduksiKonduksi atau hantaran adalah pengangkutan kalor melalui satu jenis zat. Sehingga perpindahan kalor secara hantaran/konduksi merupakan satu proses pendalaman karena proses perpindahan kalor ini hanya terjadi di dalam bahan. Arah aliran energi kalor, adalah dari titik bersuhu tinggi ke titik bersuhu rendah. Benda yang dapat menghantar panas dengan baik disebut sebagai konduktor. Selanjutnya bila diandaikan sebatang besi atau sembarang jenis logam dan salah satu ujungnya diulurkan ke dalam nyala api. Dapat dilihat bagaimana kalor berrpindah dari ujung yang panas ke ujung yang dingin (Masyithah dan Haryanto 2006). Gambar 1. Perpindahan panas konduksi dan difusi energy akibat aktivitas molekulSumber : Masyithah dan Haryanto (2006) Apabila ujung batang logam tadi menerima energi kalor dari api, energi ini akan memindahkan sebagian energi kepada molekul dan elektron yang membangun bahan tersebut. Molekul dan elektron merupakan alat pengangkut kalor di dalam bahan menurut proses perpindahan kalor konduksi. Dengan demikian dalam proses pengangkutan kalor di dalam bahan, aliran electron akan memainkan peranan penting. Kadar aliran energi kalor setiap benda adalah berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah berbeda. Untuk satu bahan berfase padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan berfase gas seperti udara (Masyithah dan Haryanto 2006). Daftar konduktivitas panas pada beberapa bahan pangan dapat dilihat pada Tabel 1 berikut:Tabel 1. Nilai Konduktivitas Panas beberapa jenis bahan pangan Sumber : Fourer (1822) dalam Wirakartakusumah et al., (1992) Tabel 2. Nilai konduktivitas beberapa bahan Sumber : Fourer (1822) dalam Wirakartakusumah et al., (1992)2.2.2 KonveksiKonveksi atau aliran adalah pengangkutan ka1or oleh gerak dari zat yang dipanaskan. Proses perpindahan panas secara aliran atau konveksi merupakan satu fenomena permukaan. Proses konveksi hanya terjadi di permukaan bahan. Jadi dalam proses ini struktur bagian dalam bahan kurang penting. Keadaan permukaan dan keadaan sekelilingnya serta kedudukan permukaan itu adalah yang utama. Lazimnya, keadaan keseirnbangan termodinamik di dalam bahan akibat proses konduksi, suhu permukaan bahan akan berbeda dari suhu sekelilingnya. Dalam hal ini dikatakan suhu permukaan adalah T1 dan suhu udara sekeliling adalah T2 dengan Tl>T2. Kini terdapat keadaan suhu tidak seimbang diantara bahan dengan sekelilingnya (Masyitah dan Haryanto 2006).Perpindahan kalor dengan jalan aliran dalam industri kimia merupakan cara pengangkutan kalor yang paling banyak dipakai. Konveksi hanya dapat terjadi melalui zat yang mengalir, maka bentuk pengangkutan ka1or ini hanya terdapat pada zat cair dan gas. Pada pemanasan zat ini terjadi aliran, karena masa yang akan dipanaskan tidak sekaligus dibawa kesuhu yang sama tinggi. Oleh karena itu bagian yang paling banyak atau yang pertama dipanaskan memperoleh masa jenis yang lebih kecil daripada bagian masa yang lebih dingin. Sebagai akibatnya terjadi sirkulasi, sehingga kalor tersebar pada seluruh zat (Masyitah dan Haryanto 2006). Gambar 2. Perpindahan panas konveksi. (a) konveksi paksa, (b) konveksi alamiah, (c) pendidihan, (d) kondensasi Sumber : Masyithah dan Haryanto (2006)Pada perpindahan kalor secara konveksi, energi kalor ini akan dipindahkan ke sekelilingnya dengan perantaraan aliran fluida. Oleh karena pengaliran fluida melibatkan pengangkutan massa, maka selama pengaliran fluida bersentuhan dengan permukaan bahan yang panas, suhu fluida akan naik. Gerakan fluida melibatkan kecepatan yang seterusnya akan menghasilkan aliran momentum. Jadi masa fluida yang mempunyai energi termal yang lebih tinggi akan mempunyai momentum yang juga tinggi. Peningkatan momentum ini bukan disebabkan masanya akan bertambah. Massa fluida menjadi berkurang karena kini fluida menerima energi kalor (Masyitah dan Haryanto 2006).Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat massa benda yang telah naik itu diisi oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah massa juga menerima energi kalor dari permukaan bahan, massa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu renah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konduksi dan konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor. Dalam pengamatan proses perpindahan kalor konveksi, masalah yang utama terletak pada cara mencari metode penentuan nilai h dengan tepat. Nilai koefisien ini tergantung kepada banyak faktor. Jumlah kalor yang dipindahkan, bergantung pada nilai h. Jika cepatan medan tetap, artinya tidak ada pengaruh luar yang mendoromg fluida bergerak, maka proses perpindahan ka1or berlaku. Sedangkan bila kecepatan medan dipengaruhi oleh unsur luar seperti kipas atau peniup, maka proses konveksi yang akan terjadi merupakan proses perpindahan kalor konveksi paksa. Yang membedakan kedua proses ini adalah dari nilai koefisien h-nya (Masyitah dan Haryanto 2006) Dimana :q = Laju perpindahan panas konveksi h = Koefisien perpindahan panas konveksi (w/m2 0C)A = Luas penampang (m2)∆T = Perubahan atau perbedaan suhu (0C; 0F)2.2.3 RadiasiRadiasi atau pancaran merupakan perpindahan panas mela1ui gelombang dari suatu zat ke zat yang lain. Semua benda memancarkan panas. Keadaan ini baru terbukti setelah suhu meningkat. Pada hakekatnya proses perpindahan perpindahan radiasi terjadi dengan perantaraan foton dan juga gelombang elektromagnet. Terdapat dua teori yang berbeda untuk menerangkan bagaimana proses radiasi itu terjadi. Semua bahan pada suhu mutlak tertentu akan menyinari sejumlah energi ka1or tertentu. Semakin tinggi suhu bahan tadi maka semakin tinggi pula energi ka1or yang disinarkan. Proses radiasi adalah fenomena permukaan. Proses radiasi tidak terjadi pada bagian dalam bahan. Tetapi suatu bahan apabila menerima sinar, maka banyak ha1 yang boleh terjadi. Energi ka1or yang menimpa suatu permukaan, sebagian akan dipantulkan, sebagian akan diserap ke da1am bahan, dan sebagian akan menembus bahan dan terus ke luar. Jadi da1am mempelajari perpindahan ka1or radiasi akan dilibatkan suatu fisik permukaan (Masyitah dan Haryanto 2006).Bahan yang dianggap mempunyai ciri yang sempurna adalah jasad hitam. Disamping itu, sama seperti cahaya lampu, adaka1anya tidak semua sinar mengenai permukaan yang dituju. Jadi da1am masalah ini kita mengenal satu faktor pandangan yang lazimnya dinamakan faktor bentuk. Maka jumlah ka1or yang diterima dari satu sumber akan berbanding langsung sebagiannya terhadap faktor bentuk ini. Sifat termal permukaan bahan juga penting. Berbeda dengan proses konveksi, medan aliran fluida disekeliling permukaan tidak penting, yang penting ialah sifat terma saja. Dengan demikian, untuk memahami proses radiasi dari satu permukaan kita perlu memahami juga keadaan fisik permukaan bahan yang terlibat dengan proses radiasi yang berlaku (Masyitah dan Haryanto 2006).Proses perpindahan kalor sering terjadi secara serentak. Misalnya sekeping plat yang dicat hitam dikenakan sinar matahari. Plat akan menyerap sebagian energi matahari. Suhu plat akan naik ke satu tahap tertentu. Oleh karena suhu permukaan atas naik maka kalor akan berkonduksi dari permukaan atas ke permukaan bawah, permukaan bagian atas kini mempunyai suhu yang lebih tinggi dari suhu udara sekeliling, maka jumlah kalor akan disebarkan secara konveksi. Tetapi energi kalor juga disebarkan secara radiasi. Dalam hal ini dua hal terjadi, ada kalor yang dipantulkan dan ada kalor yang dipindahkan ke sekeliling (Masyitah dan Haryanto 2006). Gambar 3. Perpindahan panas radiasi(a) pada permukaan, (b) antara permukaan dan lingkunganSumber : Masyithah dan Haryanto (2006)Berdasarkan kepada keadaan terma permukaan, bahan yang di pindahkan dan dipantulkan ini dapat berbeda. Proses radiasi tidak melibatkan perbedaan suhu. Keterlibatan suhu hanya terjadi jika terdapat dua permukaan yang mempunyai suhu yang berbeda. Dalam hal ini, setiap permukaan akan menyinarkan energi kalor secara radiasi jika permukaan itu bersuhu T dalam unit suhu mutlak. Lazimnya jika terdapat satu permukaan lain yang saling berhadapan, dan jika permukaan pertama mempunyai suhu T1 mutlak sedangkan permukaan kedua mempunyai suhu T2 mutlak, maka permukaan tadi akan saling memindahkan kalor . Selanjutnya juga penting untuk diketahui bahwa (Masyitah dan Haryanto 2006):1. Kalor radiasi merambat lurus2. Untuk perambatan itu tidak diperlukan medium (misalnya zat cair atau gas) Dimana : δ = Konstanta Stefan-Boltzman 5,669 x10- 8 w/m2 k4 A = Luas penampang T = Temperatur 2.3 BahanBahan merupakan benda-benda yang digunakan sebagai komposisi dalam pembuatan suatu benda. Bahan dapat pula dikatakan sebagai suatu komponen penyusun.2.3.1 AirAir merupakan senyawa kimia yang terdiri dari atom H dan O. Sebuah molekul air terdiri dari satu atom O yang berikatan kovalen dengan dua atom H. molekul air yang satu dengan molekul-molekul air lainnya bergabung dengan satu ikatan hydrogen antara atom H dengan aom O dari molekul air yang lain. Adanya ikatan hydrogen inilah yang menyebabkan air mempunyai sifat-sifat yang khas seperti pada Tabel 3 di bawah ini: Tabel 3. Sifat-sifat airSifat Efek dan kegunaanPelarut yang sangat baik Transport zat-zat makanan dan bahan buanganKapasitas kalor lebih tinggi dibandingkan cairan lain kecuali ammonia Stabilisasi dari temperature organism dan wilayah geographisPanas penguapan lebih tinggi dari material lainnya Menentukan transfer panas dan molekul air antara atmosfer dan badan airKonstanta dielektrik paling tinggi diantara cairan lainnya Kelarutan dan ionisasi dari senyawa ini tinggi dalam kelarutannyaTegangan permukaan lebih tinggi daripada cairan lainnya Factor pengendali dalam fisiologi, membentuk fenomena tetes dan permukaan Sumber : Achmad 2004Air sebagai pelarut yang sangat baik juga mempunyai konstanta dielektrik yang sangat tinggi sehingga berpengaruh besar terhadap sifat-sifat pelarutnya. Hal ini menyebabkan banyak sekali senyawa ionis berdesosiasi dalam air. Kapasitas kalor air cukup tinggi yaitu 1 kal/grC, oleh karena itu kalor yang diperlukan untuk merubah suhu dari sejumlah massa air cukup tinggi pula sehingga menstabilkan suhu air. Kalor penguapan yang sangat tinggi yaitu 585 kal/g pada suhu 20C dapat menjaga kestabilan suhu badan air, kondisi ini mempengaruhi juga perpindahan kalor dan uap air antar badan air (Achmad 2004).2.3.2 Minyak GorengMinyak goreng adalah bahan pangan non-esensial dan berfungsi sebagai bahan pangan komplemen. Minyak goreng digunakan secara luas di seluruh belahan dunia termasuk di Indonesia (Amang et al., 1996 dalam Trimulyono 2008), baik oleh rumah tangga maupun industri makanan. Fungsi minyak goreng sangat penting dalam menciptakan aroma, rasa, warna, daya simpan dan dalam beberapa hal juga untuk meningkatkan nilai gizi produk (Sumaryanto dan Pantetana 1996). Tidak semua minyak dapat digunakan untuk menggoreng. Minyak yang biasa digunakan untuk menggoreng adalah minyak yang berasal dari tumbuhan atau minyak nabati (Winarno 1999). Minyak nabati adalah minyak yang dihasilkan dari ekstrak kandungan lemak dari tumbuh-tumbuhan. Minyak nabati tergolong sebagai minyak yang tidak akan mengeras jika dibiarkan di udara terbuka (non drying oil). Salah satu contoh minyak yang tergolong kelompok ini adalah minyak kelapa sawit. Minyak nabati yang popular dikonsumsi manusia adalah hasil olahan jagung, kedelai, bunga matahari, kelapa, kelapa sawit, kacang tanah. Sumber bahan baku utama minyak goreng yang diproduksi di Indonesia adalah kelapa sawit dalam bentuk minyak sawit dan minyak inti sawit (Winarno 1999 dalam Trimulyono 2008). Namun lebih dari 95 persen minyak goreng di Indonesia adalah minyak nabati yang berasal dari kelapa dan kelapa sawit (Sumaryanto dan Pantetana 1996).Sifat fisika kimia minyak kelapa sawit meliputi warna, flavor, kelarutan, titik didih, titik cair dan polymorphism, bobot jenis, indeks bias, kekeruhan, titik asap, titik nyala dan titik api. Warna minyak kelapa sawit ditentukan oleh adanya pigmen yang larut dalam minyak serta pigmen yang tersisa setelah mengalami proses pemucatan. Sifat fisika kimia minyak sawit disajikan dalam Tabel 4.Tabel 4. Nilai fisiko kimia minyak sawitKarakteristik Minyak SawitDensitas pada 50 0C (Kg/m3) 891,00Berat jenis (40 0c) 0,921 – 0,925Bilangan iod 44 – 58Bilangan penyabunan 195 – 205Indeks reflaktif 1,453 – 1,458Titik leleh (0c) 25 – 50Bahan tak tersabunkan 0,2 – 0,8Sumber: Formo et al. (1979) dalam Winarno (1999)2.3.3 TahuTahu merupakan makanan tradisional yang sudah lama dikenal di Indonesia dan memegang peranan penting dalam pola makanan sehari-hari masyarakat Indonesia pada umumnya, baik sebagai lauk maupun sebagai makanan tambahan. Shurtleff dan Aoyagi (1975) menyatakan bahwa tahu adalah gumpalan protein dari susu kedelai sesudah dipisahkan dari air tahu dengan cari pengepresan. Sedangkan Hardjo (1964) dalam Setyadi (2008) menyatakan bahwa tahu merupakan hasil pengendapan suatu larutan kental yang mengandung protein terdispersi yang berasal dari kedelai. Tahu sebagai mana bahan pangan lainnya juga memiliki beberapa sifat termal, salah satunya adalah panas jenis. Sebagai protein tahu memiliki panas jenis sebesar 0,4 kkal/ kg oC atau 1700 J/kg oC (Giancoli 1998) Tahu merupakan makanan yang menyehatkan dan mengandung zat-zat yang dibutuhkan untuk memperbaiki gizi. Kedelai mengandung protein, karbohidrat, lemak, dan zat-zat mineral. Menurut pengamatan Kastyanto (1990) 1 Kg kedelai mengandung kurang lebih 300-400 gram protein (40 %), karbohidrat 200-350 gram (35 %) dan minyak atau lemak 150-200 gram (20 %). Tahu mempunyai kandungan protein antar 8-12 % (Lembaga Kimia Nasional 1984) dengan mutu protein yang dinyatakan dengan NPU sebesar 65.2.3.4 TempeTempe merupakan salah satu produk fermentasi yang terbuat dari kacang kedelai. Dalam proses fermentasi ini, biasanya dibantu oleh aktivitas mikroba tertentu, terutama berasal dari jenis Rhizopus oryzae. Peranan mikroba pada proses pembuatan tempe merupakan hal yang sangat krusial. Beberapa faktor mempengaruhi proses pertumbuhan mikroba. Perkembangbiakan kapang ini sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan antara lain oksigen, suhu, kadar air, keasapman (Ph) (Septiani 2007). Tempe dari kacang kedelai mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi. Selain mengandung protein, tempe kedelai juga mengandung lemak, karbohidrat serta vitamin B12. Tempe yang baik, bentuknya keras dan kering serta di dalamnya tidak mengandung kotoran dan campuran bahan lain. Tempe merupakan protein lengkap yang mengandung 8 asam amino esensial. Komposisi asam aminonya cukup baik, kecuali metionin yang relatif lebih kecil dan merupakan factor pembatas, kandungan lisin cukup besar, jumlah asam amino bebas meningkat karena terurainya protein menjadi peptide dan asam amino oleh aktivitas enzim yang diproduksi kapang, peningkatan jumlah asam amino bebas meningkatkan penyerapannya (Syarief et al., 1999).2.4 KalengKaleng adalah lembaran baja yang disalut timah. Bagi orang awam, kaleng sering diartikan sebagai tempat penyimpanan atau wadah yang terbuat dari logam dan digunakan untuk mengemas makanan, minuman, atau produk lain. Dalam pengertian ini, kaleng juga termasuk wadah yang terbuat dari aluminium.Titik terdingin menjadi perhatian penting dalam proses termal, karena apabila titik terdingin telah mendapat pemanasan yang mencukupi, maka titik-titik lain dalam kemasan dianggap sudah mendapat panas yang mencukupi pula. Penentuan titik ter-dingin produk dapat diperkirakan dari sifat perambatan panas yang terjadi (konveksi atau konduksi), bentuk kemasan dan ukuran (Kusnandar et al. 2009).Kaleng timah (tin can) merupakan pengembangan dari penemuan Nicolas Appert pada dasawarsa 1800-an. Produk ini dipatenkan oleh seorang berkebangsaan Inggris, Peter Durand pada 1810. Berkat penemuan produksi massal, pada akhir abad ke-19, kaleng timah menjadi standar produk konsumen. Timah dipilih karena relatif tidak beracun dan menambah daya tarik kemasan karena berkilat dan tahan karat (Anonim 2006).Nilai panas jenis dari beberapa bahan yang biasanya merupakan bahan dasar kaleng dapat dilihat pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Kalor Jenis beberapa jenis bahan Sumber : Anonim (2006)3. METODOLOGI3.1 Waktu dan Tempat Praktikum “pindah panas pada jenis bahan berbeda dalam kaleng” ini dilaksanakan pada hari Rabu, 1 April 2009 bertempat di Laboratorium Bahan Baku Hasil Berairan, Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. 3.2 Alat dan Bahan Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain kaleng, kompor listrik, termokople, timbangan, dan pisau. Bahan yang digunakan antara lain air, minyak, tahu dan tempe. 3.3 Prosedur Kerja Langkah-langkah kerja pada praktikum ini yaitu pertama kompor dipanaskan dengan setting awal 600 watt, setelah panas merata daya kompor diturunkan menjadi 300 watt. Suhu awal bahan dan kaleng diukur setelah itu bahan dimasukkan ke dalam kaleng dan ditaruh di atas kompor. Selanjutnya dilakukan pengukuran suhu kaleng dan bahan setiap 5 menit selama 30 menit. Berikut ini ditampilkan diagram alir praktikum ini Gambar 4. Diagram Alir Praktikum Pindah Panas pada Jenis Bahan Berbeda dalam Kaleng4. HASIL DAN PEMBAHASAN4.1 HasilPerlakuan waktu dan kemasan yang sama diperoleh hasil dari pindah panas bahan berbeda. Berikut ini diagram grafik pindah panas beberapa macam bahan yaitu minyak, air, tempe, tahu dan kaleng pada gambar. Gambar 5. Grafik 1. Pindah Panas Beberapa Macam BahanPada Gambar 5 dapat dilihat minyak memiliki kemampuan hantar panas yang paling tinggi dibandingkan dengan air, tempe, tahu dan kaleng. Tempe memiliki hantar panas yang paling rendah dibanding bahan yang lain. Minyak memiliki hantar panas sebesar 0.15 W/mK sedangkan air memiliki hantar panas sebesar 0.016 W/mK. Semakin besar nilai hantar panas suatu bahan maka kemampuan suatu bahan untuk menghantarkan panas akan semakin besar. Hal ini sesuai dengan hasil pada Gambar 5. Kemampuan hantar panas akan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah jenis bahan, sifat bahan, serta lamanya pemanasan. Bahan seperti tempe dan tahu memiliki kemampuan hantar panas yang kurang baik. Tempe dan tahu dapat dikelompokkan sebagai bahan-bahan yang bersifat isolator. Dimana : q = Laju perpindahan panas (w) A = Luas penampang dimana panas mengalir (m2) dT/dx = Gradien suhu pada penampang, atau laju perubahan suhu T terhadap jarak dalam arah aliran panas x k = Konduktivitas thermal bahan (w/moC) Gambar 6. Grafik 2 Pindah panas beberapa macam bahan padatPada Gambar 6 dapat dilihat beberapa benda padat memiliki kemampuan hantar panas yang berbeda. Tahu memiliki hantar panas yang paling baik bila dibandingkan dengan bahan padat lain seperti kaleng dan tempe. Gambar 7. Grafik 3 Pindah panas beberapa bahan cairPada Gambar 7 dapat dilihat beberapa benda cair memiliki kemampuan hantar panas yang berbeda. Minyak memiliki hantar panas yang paling baik bila dibandingkan dengan bahan cair lain seperti air. 4.2 PembahasanKonduktivitas termal (k) suatu bahan tergantung pada tekstur, suhu, komposisi dan struktur atau susunan fisik suatu bahan (Dawensun 2006). Pindah panas setiap benda memiliki perbedaan antara benda yang satu dengan yang lain. Kemampuan pindah panas bahan uji yang terdiri dari kaleng, air, minyak, tempe, dan tahu setelah melalui proses pengujian ternyata minyak memiliki kemampuan hantar paling yang paling baik dibandingkan bahan lain yaitu tahu, tempe, kaleng, dan air. Secara umum proses pindah panas pada suatu bahan, bergantung dari jenis zat dan nilai konduktivitasnya. Bahan cair lebih cepat meneruskan atau menerima panas dibandingkan benda padat. Selain itu pada bahan cair proses yang terjadi adalah konveksi sehingga proses perpindahan panas lebih cepat. Nilai massa jenis pun ikut mempengaruhi kecepatan atau laju pindah panas. Proses pindah panas pada bahan padat berturu turut adalah tahu, kaleng, dan tempe. Pada waktu 10 menit, terlihat suhu kaleng, tempe, tahu, minyak, dan air beruturut-turut adalah 59, 16 0C, 52, 3 0C, 70,2 0C, 96 0C, dan 78 0C. Tahu sering kali disebut sebagai daging tidak bertulang, karena kandungan gizinya, terutama mutu protein, setara dengan daging hewan. Bahkan protein tahu lebih tinggi dibandingkan dengan protein kedelai (Sarwono 2003). Sehingga diasumsikan tahu di sini merupakan protein, berdasarkan Tabel 1. nilai konduktivitas tahu (protein) adalah 0,4 kka./g 0C, sedangkan kaleng (alumunium) adalah sebesar 0,22 kkal/g 0C sehingga tahu akan lebih cepat menerima panas atau akan lebih cepat panas. Bahan padat yang diuji terdiri dari kaleng, tahu, dan tempe. Pada gambar 6 ditunjukkan tahu memiliki hantar panas yang paling baik dibandingkan benda padat lainnya berupa kaleng dan tempe. Bahan cair yang diuji terdiri dari air dan minyak. Gambar 7 menunjukkan minyak memiliki hantar panas yang lebih baik dibandingkan dengan air. Suatu bahan biasanya mengalami perubahan temperatur bila terjadi perpindahan kalor antara bahan dengan lingkungannya. Bila dua benda atau lebih terjadi kontak termal maka akan terjadi aliran kalor dari benda yang bertemperatur tinggi ke suatu benda yang bertemperatur lebih rendah, hingga tercapainya kesetimbangan termal.Untuk kasus kemasan berbentuk silinder (misalnya kaleng), titik terdingin untuk produk pangan berbentuk cair yang mengalami pindah panas secara konveksi akan berada di titik tengah di 1/3 ketinggian kaleng bagian bawah kemasan. Sedangkan untuk produk pangan berbentuk padat yang mengalami pindah panas secara konduksi, titik terdingin akan berada di titik tengah pusat kaleng. Oleh karena itu, ujung termokopel dipasangkan dipasangkan pada bagian-bagian tersebut.Proses pindah panas secara konveksi dimulai dari pindah panas secara konduksi saat menembus dinding kaleng dan mengenai cairan di bagian dinding kaleng. Hal ini menyebabkan suhu cairan pada dinding kaleng meningkat dan densitasnya menurun sehingga cairan akan bergerak ke atas. Pada saat cairan ini menyentuh cairan di bagian headspace, cairan ini akan bergerak ke bagian pusat kaleng. Sementara itu cairan yang lebih dingin akan bergerak mengganti-kan daerah di bagian dinding kaleng. Selama proses pindah panas ini, suhu cairan akan semakin seragam dan menyebabkan driving force akan semakin kecil, sehingga kecepatan pergerakan fluida akan semakin menurun. Dalam proses pindah panas secara konduksi, panas akan merambat dari dinding kaleng ke pusat kaleng dari segala arah. Dengan demikian, titik terdinginnya akan berada di pusat kemasan (Kusnandar et al. 2009).Hasil pengamatan pindah panas pada beberapa macam bahan menunjukan bahwa minyak mengalami pendidihan lebih cepat dan menguap sehingga pada menit kedua puluh minyak sudah tidak ada dan tidak dapat diukur suhunya. Medium air mengalami peningkatan sampai pada menit kedua puluh tetapi menuju menit kedua lima dan menit ketiga puluh suhu air cenderung konstan sekitar 80 ºC. Pada bahan tempe dari awal pemanasan sampai akhir pemanasan mengalami peningkatan. Bahan tahu juga mengalami peningkatan suhu dari mulai awal penyimpanan pada bahan kaleng sampai akhir pemanasan yang simpan dalam kaleng dengan peningkatan suhu yang cukup eksponensial. Sedangkan kaleng mengalami peningkatan sampai menit kedua puluh lima dan mengalami penurunan pada menit ke-30.Berdasarkan grafik pada Gambar 5 dapat diketahui bahwa minyak mengalami kenaikan suhu yang paling cepat dibandingkan bahan yang lain, diikuti air, tahu, kaleng dan tempe. Hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas (Winarno 1992). Minyak sebagai fluida memiliki mekanisme pindah panas secara konveksi.Fluida yang panas karena menerima kalor dari permukaan bahan akan naik ke atas. Kekosongan tempat masa benda alir yang telah naik itu diisi pula oleh masa fluida yang bersuhu rendah. Setelah masa ini juga menerima energi kalor dari permukan bahan, masa ini juga akan naik ke atas permukaan meninggalkan tempat asalnya. Kekosongan ini diisi pula oleh masa fluida bersuhu rendah yang lain. Proses ini akan berlangsung berulang-ulang. Dalam kedua proses konveksi, faktor yang paling penting yang menjadi penyebab dan pendorong proses tersebut adalah perbedaan suhu. Apabila perbedaan suhu .terjadi maka keadaan tidak stabil terma akan terjadi. Keadaan tidak stabil ini perlu diselesaikan melalui proses perpindahan kalor. Perbedaan kecepatan dalam meningkatnya suhu pada setiap bahan ditentukan oleh kadar alir energi yang dipengaruhi oleh susunan molekul yang terdapat pada bahan. Kadar alir energi kalor pada setiap bahan adalah berbeda. Hal ini disebabkan karena susunan molekul dan juga atom di dalam setiap bahan adalah berbeda. Untuk satu bahan berfasa padat molekulnya tersusun rapat, berbeda dengan satu bahan berfasa gas seperti udara (Masyithah dan Haryanto 2006).Berdasarkan grafik pada Gambar 7, dapat diketahui bahwa minyak mengalami kenaikan suhu yang lebih cepat dibandingkan air. Hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas (Winarno 1992). Minyak akan lebih cepat mendidih bila dibandingkan dengan air, hal ini dapt dilihat pada grafik di Gambar 7, bahwa hanya diperlukan waktu 20 menit untuk mendidihkan dan menguapkan lemak, sedangkan pada air ketika waktu memasuki 30 menit air telah mendidih tetapi belum semua molekul air yang ada teruapkan.Pemanasan air dapat mengurangi daya tarik-menarik antara molekul-molekul air. Bila suhu air meningkat, jumlah rata-rata molekul air dalam kerumunan molekul air menurun dan ikatan hidrogen putus dan terbentuk lagi secara cepat. Bila air dipanaskan lebih tinggi lagi sehingga molekul-molekul air bergerak demikian cepat dan tekanan uap air melebihi tekanan atmosfer beberapa molekul dapat melarikan diri dari permukaan dan menjadi gas. Hal ini terjadi ketika air mendidih pada suhu 100 ºC pada permukaan laut dengan tekanan barometer 760 mmHg. Dalam keadaan uap molekul-molekul air kurang lebih menjadi bebas satu sama lainnya (Winarno 1992).5. KESIMPULAN DAN SARAN5.1 Kesimpulan Pindah panas suatu bahan akan dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranay adalah nilai konduktivitas panas (k). Pindah panas adalah proses berpindahnya panas dari bahan ke lingkungan maupun sebaliknya dari temperatur tinggi ke temperatur rendah. Mekanisme pindah panas yang terjadi dapat berupa konduksi, konveksi dan radiasi. Pada waktu 10 menit pertama suhu kaleng, tempe, tahu, minyak, dan air beruturut-turut adalah 59, 16 0C, 52, 3 0C, 70,2 0C, 96 0C, dan 78 0C. Perpindahan panas yang paling cepat terjadi pada minyak yaitu 96 0C pada 10 menit pertama.Benda padat yang mengalami proses konduksi adalah kaleng, tahu dan tempe, dimana tahu menunjukkan yang paling cepat mengalami kenaikan suhu. Hal ini dikarenakan tekstur tahu lebih lunak sehingga panas dapat dengan cepat berpindah. Konveksi merupakan proses pindah panas yang terjadi pada zat cair. Pada praktikum ini zat cair yang mengalami proses konveksi adalah minyak dan air, dimana minyak menunjukkan yang paling cepat mengalami kenaikan suhu, pada waktu 20 menit minyak telah mendidih dan menguap, hal ini dikarenakan minyak memiliki sifat sebagai penghantar panas yang baik5.2 SaranPada praktikum selanjutnya bahan yang digunakan juga diberi insulator untuk membandingkan pindah panas yang terjadi pada suatu bahan.DAFTAR PUSTAKAAchmad . 2004. Kimia lingkungan. Yogyakarta: Andi YogyakartaAnonim. 2008. Kaleng. http://id.wikipedia.org/wiki/Kaleng. [ 01 April 2009].Dawensun. 2006. Thermal food prosessing . London: Taylor and Francis GroupGiancoli DC. 1998. Fisika Edisi Kelima Jilid Satu. Jakarta: Erlangga.Kusnandar F., et al. 2009. Pengukuran Penetrasi Panas [Topik 9]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Lembaga Kimia Nasiona. 1984. Tahu dan Pemanfaatn Limbah Padatnya. Brosur. Bogor: LKN-LIPI.Lesmana RI. 2008. Analisa Pindah Panas secara Konveksi. http://royindralesmana.wordpress.com . [ 01 April 2009].Masyithah dan Haryanto. 2006. Perpindahan Panas. Medan: Departemen Teknik Kimia, Universitas Sumatra Utara.Pearson. 1992. Conceptual Physics tenth edition. San Fransisco: City College of San FransiscoSeptiani. 2007. Penambahan tempe sebagai flavor dalam pembuatan kecap ikan petek (Leiognathus splendens) secara fermentasi enzimatis [skripsi]. Bogor: Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.Setyadi D. 2008. Pengaruh pencelupan tahu dalam pengawet asam organic terhadap mutu sensorik dan umur simpan. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.Syarief R., Hermanianto J., Hariyadi P., Wiraatmadja S., Suliantri, Dahrulsyah, Suyatna N.E., Saragih Y.P., Arisasmita J.H., Kuswardani I., Astuti M. 1999. Wacana Tempe Indonesia. Surabaya: Universitas Katolik Widya MandalaWinarno. 1992. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustakan Utama.Wirakartakusumah MA, Kamaruddin Abdullah, Atjeng M Syarif. 1992. Sifat Fisik Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor.